Selasa, 25 Agustus 2009

Transformasi Entrepreneur TP Rachmat (mantan CEO Astra)

Tanpa bermaksud promosi, saya sangat menyarankan teman-teman untuk membaca wawancara TP Rahmat (mantan CEO Astra International & Founder ADIRA Finance)
di Majalah SWA edisi 15-28 Maret 2007.

Saya sangat kagum pada beliau, walaupun sudah berusia 63 tahun, sudah sangat sukses bertransformasi dari professional mjd entrepreneur dan memiliki puluhan perusahaan-perusahaan besar, beliau tetap BELAJAR TERUS dengan menyediakan waktu 2 jam sehari untuk membaca buku dan majalah. Sangat mengagumkan!

Banyak yang bisa kita pelajari dari beliau:

“Jangan wishful thinking tapi juga jangan pernah putus asa.
Jangan sampai ikutan euforia tanpa menghitung secara cermat.
Perjalanan bisnis itu panjang….
Pesan untuk kita semua dari beliau yang ingin mendirikan bisnis baru:
Pertama, model bisnisnya itu benar atau tidak.
Kalau mendirikan bisnis yang melawan produk dari Cina itu sulit.
Kalau memilih yang compliment dengan produk dari Cina itu relatif mudah.
Terkadang Indonesia ini memang negara yang banyak berisi orang jenius tapi terlalu “lugu”.

Menyedihkan sekali melihat TEMPE kita yang patenkan malah orang Jepang,
dan BATIK kita juga sudah dipatenkan oleh orang Malaysia,
Baru tahu kan, Mas?

Yah itulah karma nya karena kita sering bajak produk orang lain…
Dunia ini adil, Mas..

Apa yang kita tabur, itulah yang tuai…

Klo kita nipu orang suatu saat kita juga akan ditipu orang…
Kalau kita bantu orang, suatu saat kebaikan itu juga akan berbalik ke kita…
Saya percaya dengan Ilmu Fisika,

Menurut hukum kekekalan energi, energi itu tidak dapat diciptakan & tidak dapat dimusnahkan. Kalau kita pernah dijahati orang, maka kita pun merekam perberbuatan jahat tsb dalam otak Anda, yah energi jahat itu tidak akan pernah hilang dari muka bumi dan suatu saat akan berbalik kepada Anda sendiri, entah itu pada saat Anda masih hidup atau pada saat Anda di akherat…

Demikian pula sebaliknya, bila Anda mengeluarkan energi positif, memuji secara tulus orang lain atas prestasinya, hal tersebut akan membuat orang tersebut senang dan ia akan berbunga-bunga terus sepanjang hari, ia akan menebarkan energi positif pula ke Anda dan orang lain…

Masih banyak lagi produk-produk yang diciptakan oleh orang ndesa tapi justru paten nya milik orang asing, pantas saja negara ini tidak maju-maju…
Kalau sudah tidak maju, terus menyalahkan pemerintahnya tidak mau bantu, padahal dirinya sendiri toh yang ngga mikir untuk maju, terlalu lugu, dikira semua orang di dunia ini baik…

Lha di Cina & India saja dulu pemerintahnya tidak pernah mikirin SMB-nya kok, kenapa kita pengusaha malah jadi manja yah? Entrepreneur kan sudah terbiasa tahan banting, Mas..

Apalagi Cina yang tahun 1980-an masih komunis, boro2 mikirin SMB, enterprise yang segede2 gajah aja ditindas habis karena semua bisnis pelayanan publik harus dikuasai/dimonopoli oleh negara…
Pemerintah Cina baru terbuka matanya ketika banyak entrepreneur2 berbondong2 berkumpul datang menemui PM Cina pada saat itu…
Sejak saat itu Cina membuka pintu ekonominya.

Kehidupan ekonomi berubah seperti langit dan bumi,
investor asing diundang untuk membangun infrastruktur hingga ke pedesaan…
Pemerintah kita sudah bagus mau bantu, masih sering bikin pameran produk-produk daerah di Semanggi Expo, JCC, dan PRJ, booth nya gratis kok,
Anda saja yang tidak pernah mau cari tahu…
Saya liat pemerintah kita bisa bikin pameran minimal sekali per bulan di tempat yang berbeda2…

Lah klo urusan follow-up masa masih minta di-closing-in pemerintah juga toh, Mas??
Mereka kan juga masih punya banyak kerjaan yg lain nya, seperti penggangguran yg 46 juta, 90 juta penduduk Indonesia yang hiidup di bawah garis kemiskinan, 2,6 juta bayi kurang gizi, 10 anak putus sekolah setiap menit serta bencana alam, illegal logging sebesar 200 kali lapangan bola setiap menit, tingkat pembajakan software yang sudah masuk Watch List, kerusuhan, & serangan teroris yang datang silih berganti, piye toh…

Buktinya, pertumbuhan ekonomi kita sudah jauh lebih tinggi lho daripada Malaysia, Vietnam, Jepang, Thailand, dan Singapura…
Bukankah wajar kalau kita bisa terus meningkatkan ekonomi mikro, kita pantas untuk memiliki sikap OPTIMIS karena dalam waktu 10-20 tahun kita pasti bisa mengejar tingkat kesejahteraan seperti negara-negara maju di Asia Tenggara lainnya??

Pemerintah kita sudah jauh lebih bagus daripada jaman Orde Baru, Mas, sekarang media bebas terbit, akhirnya banyak sekali majalah-majalah baru yang bermunculan mulai dari majalah bisnis, peluang usaha, franchisem IT sampai marketing, informasi semakin mudah didapatkan, akses internet sudah semakin murah, kurang apalagi toh?
Yang kurang dari kita yah tinggal berpikir POSITIF, saya senang pada tulisan Bapak Faisal Basri di Kompas, akhirnya setelah begitu banyak pakar2 ekonomi bisanya hanya menjelek-jelekkan pemerintah, Faisal Basri malah berani tampil sebagai satu-satunya pengamat ekonomi makro yang bilang pertumbuhan ekonomi kita meningkat, industri telekomunikasi meningkat 20%, walaupun di sisi lain manufaktur kita memang hancur2an, banyak pemilik pabrik memindahkan pabriknya ke Cina atau ke Vietnam karena biaya produksi di sana jauh lebih murah.

Yah itu kan karena mental orang Indonesia yang egois & hanya berpikir jangka pendek,
lihat saja buruh kita kualitas kerja nya bagaimana, tapi tiap tahun malah minta naik gaji terus, lihat saja lulusan-lulusan S1 kita bagaimana, yang ditanyakan selalu gaji dulu padahal ketika diberi kerjaan kerjanya tidak becus & cenderung asal2an…
Dikasih 6 hari kerja, pada demo minta 5 hari kerja, bila perlu ngga kerja tapi gaji jalan terus…

benar-benar tidak punya etos kerja bangsa ini.
Bandingkan dengan tenaga kerja di Jepang, Cina, Vietnam & Korsel yg sangat workaholic, pemerintahnya mau menerbitkan aturan 5 hari kerja, karyawannya malah demo minta mereka bisa tetap bekerja 5 hari.

Pemerintahnya ingin menaikkan standar gaji, mereka malah demo agar gaji tetap supaya investor asing betah berinvestasi di negaranya…
Mereka mengganggap bekerja adalah bentuk perjuangan mereka untuk bangsanya, bahkan mereka rela mati menjadi prajurit kamikaze demi negaranya, suatu nilai patriotik yang tidak kita punya di negeri BBM ini…

Pantaslah, kalau Korsel yang paling terpuruk pada krisis moneter 1998 sekarang bisa menjadi negara yang sangat diperhitungkan di Asia, Samsung & LG bahkan begitu menggurita melalap habis pasar elektronik dunia yang sebelumnya dikuasai Sony & Matsushita…

Pantaslah, bila Cina sebuah negara miskin pada 1995, hanya dalam waktu 10 tahun bisa menjadi macan Asia yang menjadi negara ketiga yang bisa meluncurkan satelit sendiri & satu-satunya negara di dunia dengan reaktor nuklir terbanyak yang tidak berani diganggu gugat oleh Amerika…

Pantaslah, bila Vietnam diguyur investasi milyaran dollar US oleh Google, SUN, Apple, & Microsoft menggantikan investasi head office mereka di Cina & India yang harga tanahnya sudah terlalu tinggi…

Pantaslah, bila ratusan konglomerat2 Indonesia yang punya kekayaan total sebesar 341 triliun lebih memilih tinggal di Singapura. Pantas pula bila konglomerat2 Indonesia berbondong2 mendirikan pabrik milyaran dollar US di Cina, Vietnam, bahkan Nigeria!!!
Kalau mau mengeluh ke pemerintah, lebih baik lewat jalur Asosiasi karena mereka punya bargaining position yang lumayan kuat di government,
lihat saja bagaimana sebuah asosiasi retail bisa mendikte pemerintah kita untuk mencabut regulasi yg menghambat pertumbuhan retail2 besar,
akhirnya yah retail2 kecil pada keteran kan?

Asosiasi pengusaha open source juga terbukti sukses besar memaksa pemerintah kita untuk membatalkan sepihak MoU Microsoft-Indonesia,
betapa kuatnya kan pengusaha2 kita bila mau bersatu?

Warmest Regards,
Wilson Partogi Hutadjulu
Microsoft Student Ambassador
HP Youth Ambassador

CEO LADOVA IT Solutions
1st Prize Business Start-Up Award 2006*
(Young Entrepreneur Start-Up Award 2006)
*from Indonesia Business Links & Shell Livewire

http://4iye.wordpress.com/2007/07/07/transformasi-entrepreneur-tp-rachmat-mantan-ceo-astra/

1 komentar:

saepudin mengatakan...

terima kasih banyak mas postingannya ... sangat inspiratif. saya sangat salut sekali dengan Pak Tedi....semoga etos kerja beliau bisa kita tiru,,,