Jumat, 27 Maret 2009

SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA?

By Mubyarto


The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized... ever increasing growth and accumulation (Ravaioli, 1995: 4)


1.Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja, sedangkan orang-orang kaya adalah “pahlawan pembangunan”.

2.Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...” atau “penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”, kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk hidup. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.

3.Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan, disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan, bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”.

4.Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana, yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri, tidak ada subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, bukan dengan “menggusurnya” setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi ”pemecahan” masalah kemiskinan.

5. Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama ini kiranya salah dan tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat “serakah” dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut:

(1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral;

(2) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial;

(3) Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;

(4) Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;

(5) Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas, dan bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

6 Oktober 2004

Akar dari Krisis Global

KOMPAS.com — Senin, 16 Maret 2009 | 08:49 WIB
By Simon Saragih

Memiliki mobil atau rumah tidak selamanya harus dengan uang tunai, tetapi bisa dengan mencicil. Bahkan tidak sedikit orang yang memiliki televisi karena mencicil. Jangan kecil hati, kebiasaan mencicil sudah berlangsung sejak lama di dunia dengan mengandalkan pembayaran dari gaji tetap.
Hanya orang mapan dan superkaya yang bisa membeli segala kebutuhan dengan uang tunai. Namun sayangnya, seperti ditunjukkan dari hasil penelitian Gemini Capital dan Merrill Lynch setiap tahun, kekayaan di dunia ini tidak terbagi rata di antara tujuh miliar penduduk dunia. Bahkan, ketidakmerataan itu begitu timpang.
Hampir semua, tentu sebagian macet, kegiatan mencicil seperti itu berjalan lancar. Tidak terdengar kebangkrutan massal perusahaan keuangan secara global sejak 1930-an. Ada sejumlah kasus kehancuran sistem keuangan di beberapa negara dalam beberapa dekade terakhir, namun tidak sampai memberi efek domino kebangkrutan massal seperti sekarang.

Bukti lain, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dan Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan, tak pernah ada pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif sejak Depresi Besar 1929. Artinya, kegiatan pinjam-meminjam relatif lancar saja.

Paul Krugman dan Joseph E Stiglitz, dua ekonom AS peraih Nobel Ekonomi, mengatakan, ada regulasi yang membuat bank-bank dan lembaga keuangan memberi kredit dengan rambu-rambu yang aman. Jika sebagian kredit yang dikucurkan macet, ada perusahaan asuransi yang menjamin kemacetan itu, atau bank itu sendiri punya cadangan untuk mengompensasi kredit macet.

Jika bank-bank itu bangkrut sekalian, ada perusahaan yang menjamin deposito nasabah, seperti Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di AS dan juga di Indonesia.
Dengan sistem seperti itu, konsumen, nasabah, dan perbankan sama-sama merasa aman dengan kegiatan saling meminjamkan, termasuk kegiatan meminjamkan ke perusahaan. Dari proses pinjam-meminjam ini terjadilah permintaan, yang menjadi inti pendorong aktivitas perekonomian. Bahkan perbankan bersedia memberi kartu kredit kepada miliaran penduduk dunia, yang semakin mendorong permintaan dan kemampuan berbelanja.
Sekarang kegiatan seperti itu terganggu untuk sementara kecuali untuk konsumen dan perusahaan yang benar-benar dianggap aman. Konsumen tidak dipercaya, atau tidak memiliki daya beli sebagian karena sudah di-PHK. Banyak bank tidak punya dana, bahkan sudah bangkrut dan ini terjadi pada bank-bank kaliber dunia bernama besar seperti UBS, Citigroup, ABN-AMRO yang sudah almarhum dan lainnya. Jika ada bank yang punya dana, ada keraguan mengucurkannya.
Hal ini mengganggu transaksi ekonomi, yang intinya mengganggu proses permintaan dan penawaran. Anjloknya permintaan membuyarkan penjualan mobil buatan GM, Fords, Toyota, Honda dan lainnya. Hampir semua kategori produk kini mengalami penurunan penjualan, apalagi barang-barang luks. Sebagian kartu kredit pun kini sudah sekadar kartu yang tak berdaya beli lagi.

Hancurnya kepercayaan

Mengapa? Orang terkaya nomor dua di dunia dan jago investasi, Warren Buffet mengatakan kepercayaan adalah bagian dari sistem. Dan sistem tidak akan bekerja dan tanpa adanya kepercayaan. Buffet menambahkan, ketiadaan kepercayaan itu contagious, menular dan menyebar ke seluruh sektor dengan daya rusak yang besar.
Bukan hanya konsumen yang tak dipercaya, bukan hanya bank yang diragukan keamanannya. Penurunan penjualan membuat sejumlah perusahaan yang menjual saham, dan obligasi di bursa, mengalami penurunan harga-harga saham dan obligasi.
Investor di bursa tidak lagi terlalu percaya membeli saham dari perusahaan kaliber dunia sekalipun karena persepsi akan terjadi kebangkrutan. Berjatuhanlah indeks-indeks saham.. Tetap ada kegiatan di bursa hingga sekarang, namun pelakunya bukan lagi investor konservatif tetapi investor spekulatif yang ternyata bisa tetap meraih untung dari krisis.

Mengapa keadaan sekacau itu? Kegiatan shadowy banking, “bank-bank gelap”, merajalela dalam 25 tahun terakhir. Michael Hiltzik, kolumnis di harian AS, The Los Angeles Times pada 12 Maret, menuliskan terjadi cerita horor dalam sistem keuangan.
Walau dikatakan bank-bank gelap, tetapi perusahaannya tidak gelap. Lehman Brothers adalah perusahaan resmi di AS berusia di atas 150 tahun namun berperan liar layaknya bank-bank gelap. Lehman Brothers, yang pernah menjadi konsultan Indonesia di masa krisis tahun 1998 lalu, antara lain memanfaatkan aliran dana murah dari Asia, dan dari sejumlah negara kaya di dunia (SWF) yang masuk ke AS.

“Bank-bank” gelap yang tidak diatur negara ini mengalirkan dana ke konsumen, perusahaan di luar kemampuan daya bayar di kemudian hari. Pemerintahan AS di bawah George W Bush tidak berminat mengatur aktivitas perusahaan seperti ini walau sudah diperingatkan akan ada potensi bahaya. Bukan hanya Lehman Brothers yang terlibat kegiatan seperti ini tetapi sejumlah bank dan perusahaan besar dan resmi lainnya di AS, Inggris, Jerman, Swiss dan banyak lagi bank lainnya. Bank-bank global tidak melakukan kegiatan liar ini secara langsung namun melakukannya lewat anak perusahaan yang bukan bernama bank.

Bahkan AIG, perusahaan asuransi terbesar dunia asal AS pun sudah mirip spekulan, bahkan bukan lagi sekadar bank gelap, sebagaimana dikatakan Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke. Kegiatan bank-bank gelap ini, menurut Paul Krugman lebih besar dari kegiatan bank-bank konvensional dengan omset perputaran uang sekitar 10 triliun dollar AS. Ini adalah jumlah yang dahsyat.
Mereka menggantikan peran utama bank konvensional, dan menjadi saluran utama untuk proses pinjaman meminjam di AS.

Semakin banyak kredit bisa dikucurkan, semakin banyak pula bonus didapat para karyawan. Tidak perduli apakah kredit itu bisa dikembalikan kemudian hari. Bonus tidak didasarkan pada kinerja keuangan perusahaan tetapi kemampuan menyalurkan kredit. Bank-bank gelap ini pun berperan menjual dan menjamin obligasi yang diterbitkan berbagai perusahaan resmi untuk keperluan modal. Di sisi lain banyak investor yang tergiur membeli obligasi yang ditawarkan dan dijamin bank-bank gelap ini. Siapa yang tidak percaya dengan jaminan Lehman Brothers, yang juga didukung dengan peringkat AAA yang diberikan Standard & Poor’s, lembaga pemeringkat terkenal itu

Lebih jauh lagi, bermunculan produk-produk keuangan, yang dinamakan produk-produk derivatif. Produk ini dikatakan sebagai hasil inovasi keuangan, dan ditawarkan sebagai sarana berinvestasi bagi para warga kaya di dunia.
Media di AS menjulukinya bukan inovasi tetapi corporate greed, kerakusan korporasi.
Lewat produk-produk derivatif ini, bank-bank gelap menjual surat berharga. Di Indonesia hal juga beredar, yakni surat berharga terbitan Lehman Brothers yang dijual lewat Citibank Indonesia. Hasilnya, miliaran dana warga kaya Indonesia lenyap lewat Citibank itu.

Salah satu contoh kecerobohan bank-bank gelap itu, sekitar 1,2 juta warga di AS misalnya bisa dapat rumah seharga rata-rata 120.000 dollar AS dari kredit, yang tidak didukung pendapatan untuk mencicil kemudian hari.
Ini dimungkinkan karena ada aliran dana berlimpah masuk, ditambah ketertarikan para investor, termasuk perusahaan dana pensiunan resmi milik negara, dari Singapura, Norwegia, Timur Tengah, Rusia, yang tegiur dengan iming-iming untung besar dari sektor perumahan AS, dan permainan spekulatif di bursa.

Sebagaimana dikatakan mantan Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan, dekade 2000-an, Asia yang kaya devisa menjadi sumber pendanaan ekonomi AS.
Masalah terjadi bukan hanya karena kucuran kredit berlebihan tanpa rambu-rambu pengaman dari lembaga keuangan itu.
Bank-bank gelap itu juga turut serta berspekulasi di bursa uang dan modal dan menurut Benk Bernanke berperan sepeti “Hedge Fund”, konotasi untuk penjudi kerah putih.

Aliran dana-dana itu juga dimainkan di bursa. Salah satu yang terkenal adalah dengan mengerek harga komoditas menjadi tinggi seperti harga kedelai, minyak, dan lainnya di bursa komoditas, sebagaimana pernah dikatakan Steve Forbes, pemilik majalah Forbes. Masih ingatkan kenaikan harga-harga komoditas mendadak di akhir 2007 hingga awal 2008?
Lalu setelah harga tinggi, si pemain menjual komoditas miliknya, dan meraih untung tinggi. Kerusakan lain terjadi, warga di dunia dipaksa membeli harga pangan tinggi.

Meraih untung tanpa keringat

Inti persoalan, para eksekutif keuangan, terutama Wall Street, telah meraup keuntungan dari aliran dana masuk ke AS, tidak dengan mengandalkan keuntungan perusahaan, tetapi dengan menelan dana itu sendiri dengan mengorbankan para nasabahnya, termasuk para pemberi pinjaman.
CEO JP Morgan Chase, Jamie Dimon, di New York, pekan ini mengakui perilaku seperti telah mengacaukan sistem keuangan.

CEO HSBC Stephen Green juga mengakui, kekacauan pada perilaku dan etika sistem perbankan telah menjadi sumber kekacauan.
Berapa banyak dana yang lenyap karena kekacauan seperti itu? Hiltzik mengatakan sekitar 1,2 triliun dollar AS lenyap di perumahan AS yang tak laku terjual.
Krugman mengatakan ada 10 triliun dollar AS dana-dana yang diputar di bank-bank gelap. Dana itu tidak ketahuan lagi juntrungannya, dan enah dimana berada. Hal yang pasti, dalam jajaran warga terkaya di AS, pada umumnya adalah jago-gajo teknologi informasi dan “hedge fund”.

Jika dunia telah kehilangan 10 triliun dollar AS dana, bayangkan apa yang terjadi untuk dunia dengan besaran produksi domestik bruto (PDB) 60 triliun dollar AS?
Lalu bagaimana memulihkan ekonomi dunia. Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke, mengatakan, ekonomi tak pulih jika sistem keuangan kacau. Sistem keuangan yang kacau tidak akan bisa menjadi lembaga intermediasi sebagaimana layaknya.
Bagaimana memulihkan sistem keuangan? Hal ini hanya bisa terjadi jika ada investor yang mau membeli bank-bank dengan segala toxic assets, aset-aset beracun.

Seperti kata Buffet, kepercayaan yang hilang telah membuat investor kaya menghindar membeli bank-bank atau lembaga keuangan rusak. Buffet sendiri, yang nomor dua terkaya dunia pun, tidak mau dan bahkan tidak mampu membeli aset-aset rusak itu.
Jika aset rusak ini tidak dibeli investor, maka stimulus ekonomi yang diluncurkan berbagai negara tidak akan mampu menyelamatkan ekonomi. Jumlah stimulus di dunia sekarang ini hanya sekitar 3,5 triliun dollar AS, itu pun jika benar ada.
Jumlah uang lenyap akibat kekacauan di bursa sebagai buntut lain kekacauan yang dihasilkan dari perilaku buruk eksekutif di Wall Street sekitar 50 triliun dollar AS. Ini adalah data dari Bank Pembangunan Asia. Ini termasuk nilai kekayaan dunia yang lenyap akibat kejatuhan indeks-indeks di bursa global, bukan saja di AS.
CEO Blackstone Group LP Stephen Schwarzman, Selasa (10/3) di New York, mengatakan, sekitar 45 persen kekayaan dunia rusak akibat krisis kredit global.

Lalu kapan krisis akan selesai. “Kita tidak tahu pasti. Saya mengharapkan kita semua mendapatkan keberuntungan,” kata Krugman di National Press Club, Washington, Desember 2008 lalu. Ini adalah pernyataan yang merefleksikan dalamnya persoalan, yang tidak bisa diprediksi kapan dan bagaimana menyelesaikannya.

Kamis, 26 Maret 2009

Tol JORR II Mendesak Direalisasikan

Kompas, Jumat, 27 Maret 2009 | 03:50 WIB
By ROBERT ADHI KSP

Pembangunan infrastruktur jalan tol di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi makin mendesak direalisasikan mengingat kepadatan lalu lintas kian parah. Jumlah kendaraan terus bertambah bak deret ukur, sementara pertambahan jalan seperti deret hitung.

Bayangkan kondisi lalu lintas di kawasan Jabodetabek lima sampai sepuluh tahun mendatang. Betapa sesaknya lalu lintas Jabodetabek dengan kendaraan pribadi. Dari 5,7 juta kendaraan di Jakarta, sebanyak 98 persen merupakan kendaraan pribadi!
Catatan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menunjukkan, dalam lima tahun terakhir ini, setiap hari di Jakarta bertambah 1.127 kendaraan baru (236 mobil dan 891 motor). Sedangkan di Depok, Tangerang, Bekasi (tidak termasuk Bogor), jumlah kendaraan baru mencapai 2.207 per hari (320 mobil dan 1.707 motor). Panjang jalan di DKI Jakarta ”hanya” 7.760 km dengan luas jalan 40,1 km.
Kalau pemerintah tidak melakukan upaya serius memecahkan persoalan ini, kondisi jalan di Jakarta bakal stagnan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menimbang-nimbang untuk menerapkan konsep electronic road pricing (ERP) seperti yang sudah dilakukan banyak negara di dunia. Tujuan ERP untuk membatasi jumlah kendaraan masuk ke jalan tertentu pada jam-jam sibuk. Uang yang diperoleh dari ERP, kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Bambang Susantono, diharapkan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur transportasi umum.

Pemerintah juga merencanakan membangun mass rapid transit (MRT) Lebak Bulus-Dukuh Atas-Harmoni sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan lalu lintas. MRT ini dibiayai pinjaman Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berjanji MRT segera dibangun tahun 2009-2010.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sudah mengoperasikan bus rapid transit yang menjangkau hampir seluruh wilayah Jakarta. PT Kereta Api sejak tahun 2008 mengoperasikan KRL Jabotabek hingga menjelang tengah malam. Langkah ini cukup membantu transportasi para pekerja komuter.

Namun, itu semua tidak cukup untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang kian parah. Salah satu solusi adalah membangun jaringan jalan lingkar baru di kawasan Bodetabek.
Masyarakat Bodetabek sejak lama mengeluh soal kemacetan yang semakin parah. Warga Kota Depok yang setiap hari melintasi Jalan Raya Bogor, Jalan Margonda, Jalan Sawangan, dan Jalan Cinere Raya, misalnya, mengeluh karena jalan utama di kota itu selalu macet. Jalan-jalan itu sempit dan tak mampu menampung kendaraan.
Keadaan serupa dialami warga Bodetabek lainnya, yang sudah gerah dengan kemacetan seakan tanpa solusi. Warga Bodetabek harus bangun dan berangkat lebih awal jika tidak ingin terjebak macet di Jakarta.

JORR II

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Departemen Pekerjaan Umum dua tahun lalu merilis rencana pembangunan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) II di kawasan Bodetabek.

JORR II mengitari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, lalu menembus kawasan Kunciran dan memotong Jalan Tol Tangerang-Kebon Jeruk, terus ke arah Serpong di Tangerang Selatan, menyambung ke Cinere hingga memotong Jalan Tol Jagorawi. Dari Cimanggis, JORR II menyambung ke arah Cibitung, dan terus ke Tanjung Priok. Di sini JORR II menyambung dengan jalan tol dalam kota yang ke arah bandara (lihat peta).

JORR II diharapkan menjadi salah satu solusi kemacetan lalu lintas. Kendaraan berat yang akan ke Pelabuhan Tanjung Priok sebetulnya tak perlu masuk ke dalam kota dan memadati jalan di Jakarta jika JORR II terealisasi. Intinya, pembangunan jalan tol lingkar luar II ini akan membantu mengurangi kepadatan lalu lintas Jakarta dan Bodetabek. Untuk daerah-daerah yang sudah berkembang secara komersial, pemerintah menggandeng investor swasta untuk membangun jalan tol baru.
Gairah investor menggarap JORR II ini cukup besar. Dari enam ruas tol JORR II, empat di antaranya memiliki perjanjian kontrak.

Namun, Kepala BPJT Nurdin Manurung mengakui, hingga kini investor jalan tol menghadapi problem yang sama, yaitu masalah pembebasan tanah.
Reformasi peraturan belum dapat diimplementasikan di lapangan. Tak ada kepastian soal harga dan waktu pengadaan tanah yang menjadi pokok persoalan selama ini. Akibatnya, tingkat kelayakan investasi jalan tol menurun dan waktu konsesi berkurang.

Problem utama

Problem pembebasan tanah ini menghadang investor swasta membangun JORR II ini. Pemilik tanah menilai Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 dapat menghilangkan hak atas tanah tiba-tiba dan khawatir perpres ini mengubah ”kepentingan umum” menjadi ”kepentingan pemilik modal”.
Wakil Direktur PT Translingkar Kitajaya (TLKJ) Hilman Muchsin mengusulkan dua cara untuk menyelesaikan problem ini. Pertama, mengubah skema investasi pembangunan jalan tol yang sudah ada.

Dalam skema investasi saat ini terdapat unsur pembebasan tanah. Ini ternyata menjadi kendala utama. Dari 22 investor tol yang sudah menandatangani perjanjian sejak dua tahun lalu, belum ada kemajuan berarti.
Kedua, mekanisme pembebasan tanah perlu disempurnakan. Pemerintah seharusnya sudah menentukan lokasi untuk kepentingan umum dan mencabut hak atas tanah untuk satu koridor jalan, bukan satu per satu seperti sekarang. Tanah harus dinilai secara independen.

Pelaksanaan pembebasan tanah dilakukan secara transparan dengan mengumumkan lebih dahulu tanah yang ditetapkan. Pemerintah kemudian membekukannya sehingga terhindar dari ulah spekulan tanah.
Kepala BPJT Nurdin Manurung sepakat jika pada masa depan pembebasan tanah dilakukan lebih dahulu oleh pemerintah. Setelah itu proyek tol ditawarkan ke investor untuk dibangun dan dioperasikan, seperti yang diterapkan di China dan Malaysia.
Dari enam ruas tol JORR II, baru proyek tol Cinere-Jagorawi yang sudah menunjukkan kemajuan berarti. Nurdin memuji komitmen investor untuk menyelesaikan pembangunan jalan tol sepanjang 14,7 km itu.

Namun, bagaimana dengan ruas tol lainnya?

Komitmen saja tentu tidak cukup. Pemerintah harus segera mencari jalan keluar agar investor makin bergairah menyelesaikan JORR II yang sudah direncanakan.
Kalau pemerintah membiarkan investor tol dihadang masalah pembebasan tanah, ini berarti membiarkan JORR II tak kunjung terealisasi. JORR II sudah tertunda selama dua tahun. Seharusnya pada tahun 2009 atau 2010 sebagian ruas tol JORR II mulai beroperasi.
Penundaan berlarut-larut hanya akan memperpanjang ”penderitaan” warga Jabodetabek yang sudah capek mengalami kemacetan lalu lintas sepanjang hari.

Dept. PU Minta Investor Tol Palimanan & Pemalang Tuntaskan Proyek

AKARTA - Departemen Pekerjaan Umum (DPU) meminta investor jalan tol Cikampek (Cikopo)-Palimanan dan Pemalang-Batang lebih kooperatif untuk segera menyelesaikan proyeknya.

"Kami sudah mengalokasikan dana talangan pembebasan tanah Rp325 miliar tahun 2009 berikut dana risiko Rp2 triliun apabila harga tanah naik di atas 10 persen," kata Direktur Jenderal Bina Marga PU Hermanto Dardak, di Jakarta, Kamis (26/3/2009).

Dia menuturkan, untuk mendukung pembebasan lahan, dana risiko tanah (land capping) sebesar itu merupakan dana hibah APBN yang ditanamkan untuk infrastruktur (sun cost), berbeda dengan dana talangan yang harus dikembalikan setelah satu seksi (bagian) selesai dibebaskan.

Untuk itu, kata dia, agar dukungan yang diberikan pemerintah ini perlu mendapatkan dukungan investor karena untuk mencairkan dana ini harus ada jaminan yang dtempatkan di bank (bank guarantee). (Arif Dwi Cahyono/Koran SI/ade)

Eskalasi Utang Indonesia, Berbahayakah?

Kompas, Jumat, 27 Maret 2009 | 04:16 WIB

Ketidakmampuan pemerintah untuk keluar dari ketergantungan pada utang yang semakin besar, menurut sejumlah kalangan, menunjukkan pemerintah sudah pada tahap ketagihan pada utang.
Ketergantungan Indonesia pada utang hanya bisa dikurangi dengan mengurangi stok utang secara signifikan, menggenjot penerimaan (terutama pajak), dan adanya keberanian politik untuk merombak belanja negara. Kendati rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menunjukkan penurunan, posisi utang pemerintah secara keseluruhan terus meningkat dari Rp 1.294,8 triliun (2004) menjadi Rp 1.623 triliun (2008) dan tahun ini diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp 1.667 triliun. Peningkatan terjadi baik pada utang luar negeri maupun surat berharga negara.
Lonjakan juga terjadi pada jumlah bunga yang harus dibayar, dari Rp 62,5 triliun (2004) menjadi Rp 65,2 triliun (2005), Rp 79,1 triliun (2006), Rp 79,8 triliun (2007), Rp 88,62 triliun (2008), dan tahun ini diperkirakan meningkat lagi menjadi Rp 101,7 triliun atau naik rata- rata 10,3 persen per tahun selama kurun 2004-2009.

Semakin membengkaknya kewajiban utang ini menjadi beban bagi APBN karena menyedot anggaran pembangunan. Praktis sepertiga penerimaan pajak tersedot untuk membayar bunga utang. Sementara untuk memenuhi kewajiban cicilan pokok, termasuk utang luar negeri, pemerintah terus dipaksa menerbitkan utang baru. Besarnya utang baru yang diterbitkan ini cenderung terus meningkat, bahkan melebihi kebutuhan untuk menutup defisit APBN. Sebelumnya, Bank Indonesia dalam kajian stabilitas keuangan 2008 juga sudah mengingatkan kecenderungan meningkatnya tekanan utang luar negeri. Stok utang luar negeri, menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, meningkat dari 62,021 miliar dollar AS (2006) menjadi 62,253 miliar dollar AS (2007) dan pada 2008 serta 2009 diperkirakan 65,446 miliar dollar AS dan 65,730 miliar dollar AS.
Yang mencemaskan, menurut kajian BI tersebut, peningkatan utang ini juga terjadi pada utang jangka pendek yang meningkat dari 16,5 miliar dollar AS (2006) menjadi 23,1 miliar dollar AS atau meningkat 40,2 persen pada 2007. Akibatnya, rasio utang luar negeri jangka pendek terhadap total utang luar negeri juga naik dari 13 persen menjadi 17 persen.

Demikian pula rasio utang luar negeri jangka pendek terhadap cadangan devisa yang meningkat dari 38,7 persen (akhir 2006) menjadi 40,6 persen (akhir 2007), sementara laju peningkatan cadangan devisa lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan utang luar negeri jangka pendek.
Kondisi ini, menurut BI, bisa menjadi sumber potensi kerawanan yang dapat mengancam ketahanan sektor keuangan karena utang luar negeri atau modal asing yang masuk banyak ditempatkan dalam Sertifikat Bank Indonesia dan Surat Utang Negara yang jumlahnya cenderung terus meningkat. Tekanan terhadap sektor keuangan bisa muncul jika modal asing yang ditempatkan di surat berharga domestik itu tiba-tiba secara serentak dan mendadak mengalir keluar (sudden reversal). Tekanan juga muncul karena besarnya pembayaran utang luar negeri.

Pemerintah sendiri, seperti dikatakan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, melihat tak ada yang perlu dicemaskan dengan terus meningkatnya utang. Menurut dia, utang yang besar dan peningkatan utang tidak akan jadi masalah selama dipakai untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif dan dikelola dengan baik.
Hal senada diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu. Semakin menurunnya rasio utang terhadap PDB, meningkatnya rasio pajak, dan semakin besarnya sumber pembiayaan defisit yang berasal dari dalam negeri menunjukkan pemerintah semakin tak bergantung pada utang dan lebih banyak mengandalkan pada kemampuan dalam negeri. ”Pemerintah punya strategi pengelolaan utang domestik yang baik, baik penerbitan, pelunasan, pengaturan jatuh tempo, refinancing, buy back, maupun peminimuman biaya dan risiko utang sehingga potensi bom waktu utang tak terjadi,” ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR, Dradjad H Wibowo, menilai, eskalasi utang menunjukkan tidak konsistennya kebijakan pemerintah dengan komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada utang. Menurut Dradjad, terus meningkatnya utang adalah akibat tak adanya keberanian pemerintah untuk merombak struktur belanja negara.
”Jika kita terus membiarkan pola belanja negara seperti ini dan segala sesuatu ditutupi dengan utang, pada satu titik nanti kita akan mengalami kondisi seperti yang pernah dialami Argentina dengan siklus utangnya. Dampaknya tidak hanya ke APBN. Kebijakan ekonomi kita juga akhirnya didikte pihak luar,” ujarnya.

Keberatan juga diungkapkan Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Priambodo terhadap niat pemerintah menambah stimulus fiskal hingga 2 persen dari PDB.
”Menurut saya, se-urgent apa pun, kalau itu menaikkan defisit, harus benar-benar digunakan untuk kegiatan yang meningkatkan kemampuan membayar utang dan risikonya rendah. Kalau arahnya tak jelas, seperti pemotongan pajak pada stimulus yang sekarang, lebih baik jangan,” ujarnya. (tat/aik)

Terapi napas

Kiriman dari Bayu Priyosasongko's


Kita memiliki hidung berlubang disebelah kiri dan di sebelah kanan. Apakah fungsinya sama untuk menarik dan membuang nafas?
Our noses have left and right nostrils. Are these nostrils having the same function for inhaling (breathe- in) and exhaling (breathe- out?)

Sebenarnya fungsinya tidak sama dan dapat kita rasakan bedanya, sebelah kanan mewakili matahari (“mengeluarkan panas”) dan sebelah kiri mewakili bulan (“mengeluarkan dingin”).
Actually it's not the same and we can feel the difference. Accordingly, the right side represents the sun and the left side represents the moon

Jika sakit kepala, cobalah menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafaslah melalui hidung sebelah kiri dan lakukan kira-kira 5 menit, sakit kepala akan sembuh.
When having headache, try to close your right nostril and use your left nostril to do breathing for about 5 min. The headache will be gone.

Jika anda merasa lelah, tutuplah lubang hidung sebelah kiri dan bernafaslah melalui hidung sebelah kanan. Lakukan bolak-balik. Tak lama kemudian, anda akan merasakan segar kembali. Sebab lubang hidung sebelah kanan mengeluarkan panas, sehingga gampang sekali panas, lubang hidung sebelah kiri mengeluarkan dingin.
If you feel too tired, do it the opposite way. Close your left nostril and breathe through your right nostril. After a while, you will feel refresh again. Because the right side belongs to heat, so it gets hot easily. The left side gets cold easily.

Perempuan bernafas lebih dengan hidung sebelah kiri, sehingga hatinya mudah sekali dingin. Laki-laki bernafas lebih dengan hidung sebelah kanan, sehingga mudah sekali marah.
Women breathe mainly with their left nostril, so they get calm down easily. Men breathe mostly with their right nostril, so they get angry easily

Apakah anda pernah memperhatikan pada saat bangun, lubang hidung sebelah mana yang bernafas lebih cepat? Sebelah kiri atau kanan? Jika lubang hidung sebelah kiri bernafas lebih cepat, anda akan merasa sangat lelah. Tutuplah lubang hidung sebelah kiri dan gunakan lubang hidung sebelah kanan untuk bernafas, anda akan merasa segar kembali dengan cepat.
When we wake up, do we notice which nostril breathes faster? Is it the left side or the right side ? If the left nostril breathes faster, you will feel very tired. Close your left nostril and use your right nostril for breathing and you will get refresh quickly

Cara tersebut boleh diajarkan kepada anak-anak, tetapi efeknya akan lebih manjur jika diterapkan kepada orang dewasa.
You can teach your kids about it. The effect of breathing therapy is much better for adults.

Saya biasanya merasakan sakit kepala, dan rasanya nyeri. Kemudian saya berobat ke dokter dan beliau bercanda : "Anda akan sembuh jika berumah tangga !" Dokter itu tidak bicara omong kosong. Apa yang dia sampaikan didukung dengan teori dan kesaksian. Selama itu, setiap malam saya merasakan sakit kepala dan tidak dapat belajar. Saya makan obat, tetapi tidak dapat sembuh.
I used to have painful headache. When consulted a doctor, he told me jokingly," You will be all right if you get married!" The doctor did not bullshit me as he had his theory and supported with testimony. During that time, I used to have headache every night and I was not able to study. I took medicine but I was not cured.

Pada suatu malam. saya duduk bermeditasi dan menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafas dengan lubang hidung sebelah kiri. Dalam kurang dari satu minggu, sakit kepala saya sembuh. Saya teruskan melakukannya selama 1 bulan, sejak malam itu sampai sekarang , sakit kepala saya tidak kambuh lagi.
One night as I sat down to medidate, I closed my right nostril and breathed with my left nostril. In less than a week, it seemed that my headache problem had left me! I continued doing it for about a month and since then there was no recurrence of headache in me.

Ini adalah pengalaman saya sendiri. Saya beritahukan hal ini kepada orang lain, jika sakit kepala, cobalah cara tersebut, sebab sangat efektif buat saya. Banyak orang lain telah mencobanya dan berhasil. Ini adalah terapi alami, tidak seperti makan obat dalam jangka panjang yang memungkinkan ada efek sampingnya. Jadi kenapa anda tidak mencobanya?
This is my own experience. I used to tell others who also suffer headache to try this method as it was effective for me. It also works for those who have tried as well. This is a natural therapy, unlike taking medicines for a long time may have side effect. So, why don't you try it out?.

Dengan mempraktekkan terapi pernafasan ini secara benar (menarik dan mengeluarkan nafas), kondisi tubuh anda akan sangat rileks.
Practice the correct ways of breathing/ "breathe in and breathe out" and your body will be in a very relaxing condition

Resesi Global : Indonesia vs Negara Maju

By Hilman Muchsin

Ketua IMF ( Dominique Strauss-Kahn ) mengatakan, ekonomi dunia akan mengalami pertumbuhan negatif tahun ini. Perkiraan ini merupakan yang terburuk selama ini, karena perkiraan resmi IMF sebelumnya menyebutkan angka pertumbuhan akan sekitar 0,5 persen. Dia mengatakan perdagangan dunia turun drastis, sementara tingkat kepercayaan bisnis dan konsumen turun tajam.

Nouriel Roubini, atau dikenal juga sebagai Dr. Doom adalah salah seorang pakar yang paling pesimis lagi mengenai kondisi ekonomi saat ini. Sebelumnya professor di Stern School of Business di New York ini telah menyatakan bahwa krisis keuangan yang terjadi saat ini di AS dapat berlangsung selama bertahun-tahun jika tidak ada langkah drastis untuk memperbaikinya. Menurutnya recovery ekonomi tidak akan mungkin terjadi di tahun 2009 ini, atau bahkan tidak akan terjadi di tahun 2010 mendatang. Ia percaya bahwa resesi akan bertahan hingga akhir tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi dinyatakan akan mendekati 0% sementara tingkat pengangguran akan mencapai level 10% hingga tahun 2010 mendatang.

Jika resesi ekonomi global tahun 1929 memunculkan mahzab Keynesian yang melatar belakangi lahirnya International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia (World Bank), boleh jadi resesi global era milenium ini akan memunculkan suatu sistem ekonomi baru, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Stephen S Roach, Chairman Morgan Stanley Asia yang bermarkas di Hong Kong.

Terlepas dari semua itu, faktanya perekonomian global sedang kelam. Tak ada satu pun yang bisa memastikan arah ekonomi global. Rentannya perekonomian Asia yang disebabkan oleh ketergantungan kepada ekspor telah menjadi persoalan utama selama beberapa dekade. Namun, krisis keuangan yang menyebabkan hilangnya banyak lapangan kerja, kemiskinan, serta instabilitas, seharusnya menjadi momentum dilakukannya perubahan, meski memakan waktu hingga satu dekade.

Krisis keuangan global telah menggarisbawahi perlunya kawasan Asia untuk tumbuh dengan tidak menggantungkan diri pada ekspor. Negara-negara di Asia semestinya lebih mengembangkan permintaan domestik. Menurut Masahiro Kawai, dekan Asian Development Bank Institute, bersama sejumlah pakar ekonomi di Asia telah merilis sejumlah rekomendasi kebijakan, menjelang pertemuan G20 di London bulan depan. "Asia Timur akan membutuhkan kebijakan untuk memfasilitasi pergantian ke arah pertumbuhan berkelanjutan yang dimotori permintaan regional," dan mendesak Amerika Serikat untuk membersihkan sektor keuangan dan perumahan.

Bank Dunia memprediksikan bahwa negara berkembang termasuk Indonesia, akan kekurangan dana hingga US$700 miliar, yang diperlukan untuk membiayai impor dan kewajiban kepada perbankan.

Perekonomian domestik semakin 'terikat' dengan ekonomi dunia akibat globalisasi dan liberalisasi yang seperti lepas kendali. Kesulitan ekonomi dunia telah mempersempit ruang gerak dalam menjaga perekonomian domestik. Sebut saja peluang ekspor yang makin sempit, dan itu terbukti dari penurunan laju pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2009. Penurunan laju pertumbuhan ekspor, pada gilirannya, makin memperkecil peluang memupuk cadangan devisa. Kalaupun cadangan devisa meningkat pekan lalu, hal itu lebih karena 'hadiah hiburan' dari penerbitan obligasi global senilai US$3 miliar. Oleh karena itu, pekerjaan rumah pemerintah Indonesia, sesungguhnya adalah bagaimana 'mengisolasi' pengaruh buruk resesi global. Tanpa harus trauma terhadap isu proteksionisme, potensi pasar domestik sudah seharusnya menjadi tulang punggung saat ekonomi dunia tertekan.

Ukuran pasar Indonesia, yang 220 juta jiwa lebih, bukan angka yang kecil...

Dengan kata lain, bagaimana menjaga pasar domestik ini tetap memiliki kemampuan membeli, itulah yang harus dilakukan. Itulah tugas utama pemerintah saat ini. Dengan aneka stimulus fiskal yang telah berkali-kali diumumkan, daya beli masyarakat seharusnya tetap terpelihara.

Sudah banyak analisa teknis ekonomis tentang mengapa pasar financial hancur , dan mereka mencoba memberikan penjelasan mengenai kisah rentetan kejatuhan itu. Namun pada akhirnya, semua tragedi kehancuran pasar finansial itu sejatinya berakar pada dua elemen paling purba dalam jantung manusia, yaitu ego dan keserakahan.

Kisah tentang ego dan keserakahan itu mestinya juga segera menggedor kesadaran reflektif kita, sebab ia ternyata juga hadir di sekitar kita. Ada dua pelajaran penting yang layak kita kenang dari kisah jatuhnya Citibank yang amat tragis itu :

1. Yang pertama adalah : arsitektur keuangan global ternyata telah berubah menjadi sirkuit kasino global, tempat dimana para spekulan berjudi mempertaruhkan modal hingga ribuan trilyun rupiah. Produk-produk keuangan derivatif nan eksotik diciptakan hanya demi memuaskan hasrat spekulatif para “bandit-bandit keuangan global” yang haus akan keuntungan tanpa batas.

2. Pelajaran penting yang kedua adalah : kebodohan ternyata bukan hanya milik kaum tak berpengetahuan. Para kaum bankir berdasi yang gagah nan necis di pusat kota New York itu ternyata juga benar-benar bodoh. They are really damn stupid people. Mungkin kita jadi sadar, manajemen Citibank sebagai perusahaan kelas dunia itu ternyata juga penuh dengan kekonyolan.

Masih ingatkah anda mengenai Film terkenal hasil karya sutradara jempolan Oliver Stone yang dirilis tahun 1987 ?, sebuah film mempesona bertajuk Wall Street ? yang menceritakan tentang ambisi dan keserakahan para investor dan pialang saham di bursa Wall Street. Greed is good, serakah itu baik….inilah sebuah testamen kunci yang pernah disuarakan oleh Gordon Gekko - tokoh antagonis yang diperankan dengan sangat sempurna oleh aktor Michael Douglas.

Di luar semua itu, sesungguhnya terdapat kekuatan yang luar biasa yang justru telah menyelamatkan negeri ini dari kebangkrutannya, yaitu ekonomi rakyat. Di atas kertas, perekonomian bangsa ini seharusnya sudah "gulung tikar" sejak angka-angka statistik ekonomi pada periode krisis (1997-1999) menunjukkan kecenderungan yang terus memburuk. Nyatanya, kondisi "sekarat" itu hanya terjadi pada sektor-sektor yang memang mampu tercatat dan terefleksikan dalam angka-angka statistik itu. Di luar angka-angka itu, yang tidak mampu dicatat oleh sistem statistik yang ada, sesungguhnya masih menyimpan potensi, kekuatan, dan daya tahan yang sangat besar.

Akankah pemerintah masih terus-menerus menutup mata terhadap eksistensi ekonomi rakyat? Atau akan terus-menerus meyakini wacana yang selalu digembar-gemborkan oleh para ekonom Neo Klasik bahwa pertumbuhan yang terjadi saat ini adalah karena sumbangan konsumsi (driven consumption) orang-orang berduit????

Sejarah telah membuktikan, bahwa memuja dan memanjakan sektor modern secara "membabi-buta" hanya akan menghasilkan konklusi akhir yang menyedihkan, yang rasa pahitnya tidak hanya dikecap oleh sekelompok orang, tetapi seluruh komponen bangsa ini akan turut merasakannya. Bila bangsa ini cukup cerdas untuk menterjemahkan hikmah krisis ekonomi global, secara tidak langsung (blessing in disguise) seharusnya peristiwa menyakitkan ini justru dapat menjadi pelajaran yang dipetik hikmahnya yaitu : Eksistensi ekonomi rakyat dan sektor tradisional sudah tiba saatnya untuk segera dikembangkan dan ditingkatkan.