Jumat, 21 Agustus 2009

Hikmah Dibalik Krisis


Oleh: Palgunadi T. Setyawan *)

USA atau Amerika adalah bangsa yang gemar berhutang. Ya negaranya, ya rakyatnya. Saya masih ingat “billboard” besar dimana-mana di kota-kota besar di Amerika di tahun 90an yang memampangkan angka defisit perdagangan mereka.

Dalam angka digital yang hampir sepuluh digit yang berdetak seperti layaknya detak jam digital, beberapa digit akhir angka itu berdetak. Bertambah detik demi detik. Saya sempat tertegun didepan salah satu billboard itu sambil bergumam: gila.. Kapan berhentinya. Yang terpikir oleh saya, berapa tabungan bangsa saya ikut membiayai defisit itu.

Ironinya kita semua tahu bahwa lebihan atau surplus atau reserve negara-negara lainlah yang dipakai untuk membiayai defisit atau hutang itu. Surplus yang terakumulasi dalam reserve negara-negara itu, tabungan hasil kerja mereka, termasuk kita dan yang paling besar saat ini barangkali Cina, yang didapat dari mana-mana biasanya kembali ke Amerika untuk dibelikan “treasury bond” atau surat hutang lainnya. Uang itulah yang kemudian dipakai untuk dipinjamkan secara berantai dari satu lembaga peminjam kepeminjam lainnya dan berakhir pada peminjam perorangan yang kemudian menggunakan hutang itu untuk membiayai keperluan mereka, beli makanan, pakaian, mobil, bahan baker dan antara lain rumah. Dan itu dilakukan dengan ringan dan mudah.

Hal ini merangsang pertumbuhan kebutuhan dan membumbungnya harga dari barang dan jasa yang dibutuhkan itu. Yang sempat menggila waktu itu, sebagai contoh adalah harga minyak bumi. Ibarat balon, balon ekonomi itu menggelembung semakin besar, sampai akhirnya meletus. Pada suatu titik tertentu gelembung hutang itu, khususnya pada orang perorangan sebagai peminjam terakhir melampaui batas kemampuannya mengembalikan. Besar pasak dari tiang. Maka meletuslah balon itu.

Kali ini diawali disektor perumahan dan properti di Amerika. Mudah dimengerti kemudian hal ini merembet ke sektor lainnya. Orang panik karena butuh uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari maupun bayar hutang. Bank juga kekeringan tunai walau lalu kebanjiran aset. Aset agunan yang disita yang juga susah dijual. Yang paling dahsyat orang kehilangan kepercayaan. Maka bertumbanganlah harga semua barang dan jasa yang tadinya dengan uang pinjaman itu mereka dibeli. Dimulai dengan kebangrutan orang per orang, merembet ke perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Dan terjadilah Lehman Brothers yang telah berusia 185thn akhirnya ambruk juga.

Dan ini tidak berhenti, akhirnya akan sampai pada pemberi hutang pertama yaitu kita semua didunia ini. Seperti gelombang tsunami gelombang itu akan dan sedang merambat keseluruh dunia.

Amerika itu suatu ekonomi yang luar biasa besarnya dan luar biasa rakusnya. Ini menjadi pemicu dan perangsang bagi seluruh dunia untuk menyuapinya. Barang dan jasa apa saja pasti akan mereka telan. Namun bila raksasa rakus ini sedang tersedak kerongkongannya, sedang tidak bisa menelan seperti sekarang maka arus suapan itupun terhambat dan dibeberapa sektor terhenti. Produksi barang dan jasa suplai terhenti, PHK dimana-mana. Pengangguran meningkat. Masalah dan nestapa dimana-mana. Inilah krisis dalam skala global yang sedang dan akan kita hadapi. Entah untuk berapa lama dan bagaimana berakhirnya.

Lalu hikmah apa yang bisa diambil dari cerita diatas. Ternyata, berkali-kali telah ditunjukan, segala petaka yang terjadi dan harus dihadapi umat manusia itu diawali dengan kerakusan yang tidak terkendali, disusul dengan kebodohan karena malas berfikir, dilanjutkan dengan kehilangan kepercayaan dan diakhiri dengan membuang kemuliaan dan kehormatan yang seharusnya dijaga.

Masing-masing lalu memikirkan keselamatan sendiri-sendiri, bukan memikirkan keselamatan orang lain dan orang banyak. Maka terjadilah kepanikan, pertarungan kepentingan pribadi dan kelompak. Dan mulailah proses kehancuran dan azab. Saya teringat sebuah plakat dikebun binatang Singapura yang tertulis:

“ Bila binatang terakhir selesai diburu, ikan terakhir selesai dipancing, sungai terakhir selesai diracuni dan pohon terakhir selesai ditebang, barulah kita sadar bahwa uang tidak bisa dimakan”

Semoga semua ini menyadarkan kita akan fungsi dan amanah kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, yang tugasnya adalah memakmurkannya dan dengan demikian memakmurkan diri kita.

http://www.palgunadi.com/artikel13.html

*) Ir. Palgunadi Tatit Setyawan, Is an Independent Commissioner and Chairman of Audit Committee of PT. Pembangunan Jaya Ancol ,Tbk and was Executive Vice President and Chief Advisor to the Chairman of Raja Garuda Mas International until his recent retirement last April 2003. He was the Regional Director for Asia – GIBB Ltd. UK from 1998 to 1999. He spent 15 years with PT Astra International and assumed numerous positions including as Manager, Director and Member of Supervisory Board of several industries within the Astra Group and, later, as Senior Vice President for Environmental Affairs. Palgunadi popularly known as Pak Pal also served at the Indonesian Army Industrial Command. He retired as Lieutenant Colonel of the Army in October 1983. Palgunadi earned his degree in Mechanical Engineering from the Bandung Institute of Technology and in Balistic Engineering fromthe Yugoslavian Military Science and Industry Institute of the University of Belgrade . He completed the Special Advance Program in Industrial Engineering at the Institute of Manufacturing Engineering of the University of Leuven, Belgium. His areas of specialization include industrial engineering and economics.He was also former member of APEC Business Advisory Council ( ABAC ) Indonesia from year 2001 - 2006.

Komitmen dalam Pekerjaan


Oleh : Palgunadi T. Setyawan*)

Ada ungkapan manis tentang persahabatan. Persahabatan adalah suatu janji...yang diucapkan hanya dengan hati... Janji yang selalu diperbaiki,... pada saat dua sahabat bertemu dan saling tersenyum, barbahagia, ceria, menikmati setiap detik, hanya karena bisa menikmati kebersamaan. Janji untuk selalu saling mengingat, satu terhadap yang lain, dengan kebangaan dan kesyukuran, tatkala dalam keadaan terpisah, baik dekat ataupun jauh...

Alangkah indahnya makna cantik persahabatan di atas bila diperluas tidak hanya antara dua orang sahabat, melainkan juga dengan orang terdekat, keluarga dirumah, tetangga, kerabat, dekat atau jauh, handai tolan, orang sekampung, orang senegeri dan seterusnya. Dan, selanjutnya tidak hanya antara kita manusia, namun juga dengan seluruh ciptaan Tuhan yang lain, makhluk hidup atau mati, mengimplementasikan petunjuk, untuk menjadi rakhmat seluruh alam.

Dan itu diaplikasikan juga untuk membangun sikap kita terhadap lingkungan kita, keluarga kita, kekerabatan kita, kerukunan-tetanggaan kita, terhadap Negara dan tanah air, dan secara khusus kepada tempat kerja kita masing-masing.

Rasa sahabat, yang diungkapkan dalam bentuk janji, yang selalu diperbaiki, secara bersambung dan berlanjut, itulah makna komitmen.

Setiap perbuatan itu nilainya ditentukan niat yang melandasi perbuatan itu. Apabila kita biasa membangun niat dalam membentuk komitmen terhadap setiap tempat atau peluang kerja yang diberikan kepada kita, percayalah betapa anda akan terkejut mendapa komitmen balasan dari tempat kerja anda yang anda berikan komitmen itu. Tidak saja balasan yang seimbang, namun biasanya jauh lebih dari yang anda harapkan.

Saya telah lebih dari 48 tahun, sejak pertama kali mensyukuri mendapat kesempatan kerja dengan gaji tetap, di bulan April tahun 1960. Yang saya sikapi dengan sikap bersahabat dan komitmen terhadap pekerjaan sebagai diuraikan diatas: Melalui berbagai macam jenis pekerjaan yang dihadirkan dihadapan saya, dengan melalui pensiun resmi hingga empat kali, kini saya memasuki bulan kedua tahun ke-49, tanpa ada satu bulanpun yang terputus, semua tempat kerja saya membalasi komitmen saya itu dengan amat dermawan dan berlimpah pada akhirnya, walau memang mungkin tidak pada awalnya.

Dari komitmen saya pada pekerjaan itu, saya mendapat kelimpahan kesejahteraan, tidak saja rezeki duniawi, melainkan terutama rezeki rohani. Merasa menjadi pemenang dan bukan pecundang. Bukan dengan rasa bangga dan sombong, melainkan dengan bersyukur dan rendah hati. Tentu, komitmen itu harus dibarengi dengan sikap diri untuk selalu tumbuh dan berkembang. Aktual pada setiap saat, keadaan, maupun tuntutan tugas sebagaimana pekerjaan membutuhkan kita. Berusaha dan berikhtiar untuk tampil sebaik mungkin. Bersikap untuk memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Masih selalu terngian di telinga saya kata-kata “Apabila kita bisa biasa bersikap memberikan kontribusi pada pekerjaan, mengerjakan lebih banyak dari yang kita terima, cepat atau lambat akan tiba saatnya, kita akan menerima lebih banyak dari yang kita kerjakan”. Dan, titik balik itu telah lama merupakan sejarah bagi saya.

Tidak ada manusia yang luar biasa. Kita ini manusia biasa biasa saja. Yang ada hanyalah mimpi yang luar biasa, yang diikuti oleh ikhtiar yang luar biasa serta dzikir yang luar biasa. Nanti yang dilangit akan memberikan anugerah hasil yang luar biasa.

Media Asuransi No. 208
Mei 2008

http://www.palgunadi.com/artikel7.html

Ir. Palgunadi Tatit Setyawan
Is an Independent Commissioner and Chairman of Audit Committee of PT. Pembangunan Jaya Ancol ,Tbk and was Executive Vice President and Chief Advisor to the Chairman of Raja Garuda Mas International until his recent retirement last April 2003. He was the Regional Director for Asia – GIBB Ltd. UK from 1998 to 1999. He spent 15 years with PT Astra International and assumed numerous positions including as Manager, Director and Member of Supervisory Board of several industries within the Astra Group and, later, as Senior Vice President for Environmental Affairs. Palgunadi popularly known as Pak Pal also served at the Indonesian Army Industrial Command. He retired as Lieutenant Colonel of the Army in October 1983. Palgunadi earned his degree in Mechanical Engineering from the Bandung Institute of Technology and in Balistic Engineering fromthe Yugoslavian Military Science and Industry Institute of the University of Belgrade . He completed the Special Advance Program in Industrial Engineering at the Institute of Manufacturing Engineering of the University of Leuven, Belgium. His areas of specialization include industrial engineering and economics.He was also former member of APEC Business Advisory Council ( ABAC ) Indonesia from year 2001 - 2006.

Rabu, 19 Agustus 2009

12 Proyek Jalan Tol Tidak Layak Bisnis?

Sebanyak 12 proyek jalan tol mengalami financial internal rate of return/FIRR (tingkat pengembalian investasi) rata-rata sebesar 1,52%. Angka ini dinilai tidak layak bagi bisnis proyek jalan tol yang diharapkan sebesar 15%-18% dengan konsesi selama 35 tahun.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Nurdin Manurung, menyatakan financial internal rate of return/FIRR (tingkat pengembalian investasi) 12 proyek turun rata-rata sebesar 1,52% akibat kemunduran proyek selama 2-3 tahun. Dengan begitu waktu konsesi jalan tol terbuang percuma.

Walaupun nilai FIRR hanya turun sebesar 1% dapat mempengaruhi kelayakan proyek bisnis jalan tol. Nilai ini akan diminati investor sebesar 15%-18% dengan masa konsensi rata-rata selama 35 tahun. Hal tersebut menjadi dasar pemerintah dan investor dalam perhitungan biaya investasi, masa konsesi, panjang jalan, potensi lalu lintas harian, dan penentuan tarif awal.

Jadwal proyek jalan tol mundur dari pembebasan lahan, konstruksi, dan operasi dari yang ditetapkan kontrak Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT). Sebanyak 10 proyek jalan tol belum dihitung kemungkinan penurunan tingkat pengembalian investasi lantaran tidak ada perkembangan proses pembebasan lahan.

Nurdin mengemukakan kemunduran proyek jalan tol dianggap tanggungjawab investor lantaran pemerintah sebagai pelaksana pengadaan tanah jalan tol. Sejumlah dana harus disediakan investor.

Semua proyek jalan tol yang terhenti akan dievaluasi BPJT. Namun, proyek jalan tol Kanci-Pejagan dan lingkar luar Jakarta (JORR) W1 tidak akan dievaluasi akibat lahan ini telah bebas 100%.

Proyek jalan tol Kanci-Pejagan akan dihentikan sementara jelang arus mudik H-10 jelang Lebaran 2009. jalur ini hanya digunakan bagi arus balik saja.

Proses konstruksi tol Kanci-Pejagan telah mencapai 70% dan JORR W1 sebesar 60%. Kedua jalan tol ini ditargetkan beroperasi pada 2009.
Mochamad Ade Maulidin ( ademaulidin@wartaekonomi.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2755:12-proyek-jalan-tol-tidak-layak-bisnis&catid=53:aumum

Lomba Penulisan Tentang Jalan Tol

PT Jasa Marga (Persero) Tbk, sebagai pengembang dan operator jalan tol terkemuka di Indonesia, mengundang para Wartawan Indonesia, baik dari media cetak maupun online, untuk mengikuti :

LOMBA PENULISAN TENTANG JALAN TOL

Lomba dimaksudkan sebagai upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang keberadaan jalan tol di Indonesia, serta pentingnya partisipasi konsumen dan masyarakat dalam memajukan industri jalan tol di Indonesia.

TEMA PENULISAN :

“Konsep investasi jalan tol sebagai dukungan terhadap rencana pemerintah untuk mengembangkan jaringan jalan tol dalam keterbatasan APBN”

PERSYARATAN :

* Lomba terbuka bagi seluruh wartawan dari media cetak dan online di seluruh Indonesia, yang dibuktikan dengan fotokopi kartu pers.
* Tulisan yang dilombakan adalah dalam bentuk artikel/feature, yang telah dimuat di media masing-masing pada periode 1 Juni – 30 Agustus 2009.
* Tulisan yang dikirim merupakan hasil karya orisinil, belum pernah dan/atau tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya.
* Tulisan dikirimkan ke panitia dalam bentuk : 1 kliping asli tulisan yang dimuat di media cetak atau print out untuk media online, 1 buah hard copy tulisan di kertas ukuran A4 (khusus wartawan media cetak), dan 1 buah soft copy tulisan dalam CD (cetak + online), disertai keterangan tentang nama media yang mempublikasikan dan tanggal publikasi, serta biodata penulis.
* Setiap peserta boleh mengirimkan tulisan sebanyak-banyaknya.
* Semua materi tulisan dimasukkan dalam amplop tertutup. Sebelah kiri atas cantumkan: “Lomba Penulisan Tentang Jalan Tol” dan dialamatkan ke :

SEKRETARIAT PANITIA LOMBA PENULISAN TENTANG JALAN TOL
Fortune PR
Plaza 3 Pondok Indah Blok D – 03
Jl Maria Walanda Maramis
Jakarta Selatan 12310

* Materi tulisan diterima oleh Panitia selambat-lambatnya tanggal 5 September 2009.
* Semua materi lomba menjadi hak milik panitia dan tidak akan dikembalikan.
* Dewan juri akan memilih pemenang I, II, III, Harapan I, Harapan II, dan Harapan III.
* Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan disampaikan sekitar akhir September atau Oktober 2009.
* Keputusan Dewan Juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Tidak diadakan surat menyurat untuk lomba ini.

ASPEK PENILAIAN :
* Kesesuaian isi dengan tema lomba
* Masukan atau ide baru untuk kemajuan industri jalan tol, bagi pemerintah, investor dan pengguna jalan
* Pembangunan citra Jasa Marga
* Penyajian tulisan: daya tarik dan penempatannya
* Penggunaan kata dan tata bahasa

DEWAN JURI :

Dewan juri terdiri dari praktisi industri jalan tol, praktisi penulisan dan praktisi media.

HADIAH BAGI PEMENANG :

Kategori wartawan cetak & online

* Pemenang I : Uang tunai Rp 12 juta
* Pemenang II : Uang tunai Rp 10 juta
* Pemenang III : Uang tunai Rp 8 juta
* Harapan I : Uang tunai Rp 6 juta
* Harapan II : Uang tunai Rp 4 juta
* Harapan III : Uang tunai Rp 2 juta

Lomba tulis tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang konsep jalan tol yang sebenarnya.

Konsep tol yang telah disepakati adalah jalan tol adalah jalan bebas hambatan, tetapi bukan berarti bebas macet karena ada fakor- faktor kendala lainnya seperti terjadinya kecelakaan lalu- lintas berakibat pada kecepatan pihak JSMR membersihkan TKP dan juga banyaknya kendaraan yang ingin menyaksikan kecelakaan tersebut dan menghambat lalu- lintas sekitar, faktor lainnya adalah perbaikan jalan dan juga semakin banyaknya jumlah kendaraan

Sehubungan dengan penyesuaian tarif tol JSMR berharap masyarakat mengerti akan penggunaan tarif tol yaitu sbb ;

1. Pengembalian investasi
2. Biaya Operasional
3. Pemeliharaan

Pihak JSMR bersedia menjadi nara sumber bagi para wartawan yang membutuhkan informasi tentang jalan tol secara lebih detail lagi dan FPR akan mengatur pertemuannya.

Untuk informasi mengenai lomba dapat menghubungi :
Nani atau Evi - Fortune PR – (021) 765 8506-08

http://www.jasamarga.com/content/view/210/89/lang,en/

Struktur pembangunan jalan-jalan kota di Jepang




Jepang bukan hanya terkenal dengan kecerdasan dan kedisiplinan mereka dalam waktu dan bekerja. Struktur pembangunan jalan-jalan kotanya pun sangatlah tersusun rapi. Bisa dibayangkan betapa hebatnya orang Jepang dalam membuat jalan tol seperti yang ada di foto:


30-07-09, 20:20

http://www.gamexeon.com/forum/general-japan-talk/59977-jalan-tol-di-jepang-yang-mengagumkan.html

Pendapatan Jasa Marga Semester I 2009 Mencapai Rp 1,702 Triliun

Press Release Nomor: 010/2009 Tanggal 30 Juli 2009

PT Jasa Marga (Persero) Tbk dengan kode saham JSMR, dalam semester I tahun 2009 membukukan pendapatan sebesar Rp 1,702 triliun atau meningkat 5 % dibandingkan pendapatan semester I 2008 sebesar Rp 1,626 triliun.

Peningkatan pendapatan yang berhasil dibukukan Jasa Marga ini juga berdampak positif terhadap peningkatan Laba Bersih Perseroan. Menurut Frans S. Sunito, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, laba bersih Semester I meningkat 8,5% dari Rp 364,6 milyar di tahun 2008 menjadi Rp 395,7 milyar di tahun 2009.

“Peningkatan ini salah satunya juga karena adanya peningkatan traffic yang melintas di jalan tol sebesar 4 %, atau 17,3 juta kendaraan,” ujar Frans. Bila pada semester I 2008 jumlah kendaraan yang melintas di jalan tol sebanyak 432,4 juta kendaraan, di tahun 2009 ini mencapai 449,7 juta kendaraan.

Jasa Marga saat ini juga tengah mengerjakan tujuh proyek pembangunan jalan tol di Indonesia. Ketujuh proyek jalan tol tersebut adalah JORR W2 (Ulujami-Kebon Jeruk), Bogor Ring Road, Semarang-Solo, Gempol-Pasuruan, JORR II Serpong-Kunciran, JORR II Kunciran-Cengkareng, dan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto.

Untuk Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) Ruas W2, Jasa Marga akan segera melakukan tahap konstruksi pembangunan setelah pembebasan lahan yang dilakukan Pemerintah selesai dilakukan. “Kira-kira kami membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan pembangunan ruas tol ini,” ujarnya.

JORR W2 ini nantinya akan dimulai dari ujung Ruas JORR di Ulujami, sehingga ruas ini akan tersambung dengan Ruas JORR yang sudah mencapai Rorotan (Cakung). Ruas JORR ini selesai maka akan menghubungkan 4 ruas tol yang sudah ada, yaitu Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jagorawi, Ulujami-Pondok Aren (Jakarta-Serpong) dan Jakarta-Tangerang

Sedang untuk JORR Ruas W1 (Kebon Jeruk-Penjaringan), yang saat ini dikerjakan oleh PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) diharapkan akan selesai pada tahun 2010. Di ruas ini Jasa Marga sudah siap untuk menjadi share holder dengan kepemilikan saham minimal 23%.

Dengan demikian, apabila kedua ruas tol JORR ini selesai, maka seluruh ruas JORR telah tersambung dan masyarakat dari Bekasi, Bogor dan daerah selatan Jakarta yang hendak ke Bandara atau ke arah Tangerang/Merak, tidak perlu lagi melewati Jalan Tol Dalam Kota Jakarta (Jakarta Inner Ring Road), begitu juga sebaliknya. “Dengan demikian kepadatan lalu lintas di ruas tol dalam kota Jakarta dapat berkurang,” jelas Frans.

Selain JORR, Jasa Marga saat ini juga tengah melakukan pembangunan konstruksi untuk Ruas Bogor Ring Road seksi I (Sentul Selatan – Kedung Halang, 4 km) progres pengerjaan sudah mencapai 65%, sedang pembebasan lahan untuk ruas ini sudah 100% selesai. Diharapkan dapat ruas ini dapat diselesaikan pada September 2009 ini. Dengan selesainya ruas tol ini, nantinya masyarakat di sekitar Bogor Utara yang biasanya masuk Tol Jagorawi melalui Baranangsiang dan masuk di Gerbang Tol Bogor, nantinya dapat langsung masuk ke Bogor Ring Road dan masuk Tol Jagorawi melalui GT Sentul Selatan.

Sedangkan Surabaya-Mojokerto saat ini juga sedang dalam proses pembangunan konstruksi. Untuk ruas lainnya, seperti JORR-2 Ruas Serpong-Kunciran, JORR-2 Ruas Kunciran-Cengkareng, Gempol-Pasuruan dan Semarang-Solo, saat ini juga sedang dalam proses pembebasan lahan.

Peningkatan Pelayanan
Sebagai komitmen Jasa Marga terhadap pelayanan kepada pengguna jalan tol, secara periodik Jasa Marga senantiasa melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pelayanan di jalan tol. Beberapa peningkatan pelayanan yang saat ini sedang dilakukan Jasa Marga diantaranya adalah penambahan kapasitas (pelebaran) jalan di Tol Jagorawi (Sentul Selatan- Bogor), Tol Jakarta-Cikampek (Karawang-Cikampek), Belmera (Medan) dan beberapa ruas tol lainnya. “Sebelumnya kita sudah menyelesaikan pelebaran di Ruas Tol Bandara,” jelas Adityawarman, Direktur Operasu Jasa Marga.

Untuk memberikan kenyaman dan kecepatan pada saat transaksi di gerbang tol, Jasa Marga bekerjasama dengan Bank Mandiri juga sudah menerbitkan E-Toll Card yang saat ini sudah bisa dipergunakan di Ruas Tol Dalam Kota Jakarta dan secara bertahap akan diterapkan di ruas tol lainnya.

Jasa Marga juga akan melakukan pemindahan Gerbang Tol Pondok Gede Timur (Jatibening) ke daerah di Cibitung. Pemindahan gerbang tol ini dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan yang biasa terjadi di Gerbang Tol Jatibening. Pemindahan Gerbang Tol juga akan dilakukan untuk Gerbang Tol TMII ke daerah Cibubur.

Pemindahan gerbang tol yang sudah pernah dilakukan Jasa Marga adalah pemindahan Gerbang Tol Kebon Jeruk ke Karang Tengah di Jalan Tol Jakarta-Tangerang. “Pemindahan ini ternyata dapat mengatasi kepadatan kendaraan yang sebelumnya sering terjadi di daerah Kebon Jeruk bahkan sampai ke Tomang,” jelas Adit.

Peningkatan pelayanan lainnya yang sedang dilakukan adalah penambahan CCTV di beberapa ruas tol, modernisasi peralatan tol, dan pemasangan rambu variabel (Variable Message Sign). “Seluruh peningkatan pelayanan ini adalah wujud komitmen Jasa Marga untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jalan tol,” tambah Adit.

Menyinggung rencana Pemerintah yang akan menyesuaikan tarif tol di 13 ruas jalan tol (11 ruas diantaranya yang dikelola Jasa Marga), Adityawarman menjelaskan bahwa Jasa Marga sudah melakukan berbagai kegiatan peningkatan pelayanan sehubungan dengan rencana tersebut. “Meskipun peningkatan pelayanan yang kami lakukan pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan penyesuaian tarif tol, karena program peningkatan pelayanan sudah merupakan bagian dari komitmen kami dalam memberikan pelayanan maksimal kepada pengguna jalan tol,” jelasnya.

Jasa Marga saat ini mengelola 13 ruas tol yakni jalan tol Belmera di Sumatera Utara, Jagorawi, Jakarta – Tangerang, Ulujami – Pondok Aren, Jakarta Inner Ring Road, Sedyatmo atau Tol Bandara, Jakarta – Cikampek, Jakarta Outer Ring Road, Cikampek – Padalarang, Padalarang – Cileunyi, Palikanci, Semarang, dan Surabaya – Gempol. Panjang seluruh ruas tol yang dikelola Jasa Marga sekitar 500 km atau 78% dari seluruh ruas tol yang beroperasi di Indonesia.


Untuk informasi lebih lengkap mohon hubungi :
Ir. Okke Merlina
Sekretaris Perusahaan
Telp. 8413526, 841 3630

http://www.jasamarga.com/content/view/213/165/lang,en/

Biarkan Siput Merambat di Jalan Tol

TARIF TOL AKAN NAIK, TRUK TETAP MELINTAS 24 JAM.

Banyak pelanggaran di jalan tol yang dibiarkan berlangsung terus menerus. Misalnya? Kendaraan yang berjalan di bawah kecepatan minimal (60 km/jam). Beberapa mobil pribadi melakukannya, kadang sambil berhalo-halo atau ber-SMS-ria. Sisanya, yang terbanyak, adalah truk.

Kalau truk ditegur kenapa tidak mau cepat, maka sopirnya akan mendadak pintar mengajari soal bahasa. Tidak mau dan tidak mampu itu beda, kata mereka.

Bagi pengguna lain, tak mampu dan tak mau toh sama. Lelet. Di bawah 60 km/jam. Kenapa masih juga berjalan menghalangi orang lain?

Lagi-lagi sopir truk akan mendadak terpelajar, mengajari soal fisika dan mekanika. Soal kakas, percepatan, perlambatan, dan seterusnya. Dalam bahasa sopir, “Cepet sih bisa, tapi ngeremnya gimana, Bos?”

Tentu sepenuhnya bukan salah para sopir truk. Mereka hanya mencari nafkah, sekaligus sebagai korban dari para tuan dan majikan. Jasa Marga dan operator lain ikut bersalah, dan sekaligus ikut memanen getah di sektor lain yang membiarkan truk berlebih muatan dan tata transportasi yang mengakibatkan pertumbuhan pesat mobil pribadi.

Tentang getah dari korupsi (tepatnya: suap) di bidang pengawasan muatan, Anda ingat di Pantura Jawa Tengah pernah ada jembatan ambrol saat macet karena jembatan yang sudah lelah itu menahan truk yang berlebih muatan. Sebuah mobil nontruk, berikut penumpangnya, yang terjebak kemacetan di atas jembatan itu jadi korban.

Karena yang saya bahas adalah jalan tol, maka persoalannya saya batasi di Jasa Marga dan para operator jalan tol. Intinya: jangan biarkan truk melintas pada jam sibuk. Bagusnya sih truk harus berjalan setidaknya pada kecepatan minimal, di lajur kiri, dan… pada pukul 23.00 sampai 03.00 untuk jalan tol dalam kota. :D

Kalau tidak, maka setiap jam sibuk, jalan tol dari Cawang sampai Polda akan macet karena harus mengalah kepada truk-truk “yang tidak mau cepat” saat menanjak di Pancoran dan Mampang. Boleh juga ditambah truk malas lainnya yang seperti bekicot perlahan beringsut di jalan layang Tomang menuju Merak. Itu pun belum ditambah as patah di tanjakan jalan layang, atau muatan tumpah. Muatannya itu dari botol minuman sampai pipa baja.

Tentu Jasa Marga dan kalangan usaha tak setuju usulan saya karena dua alasan utama. Pertama: jalan tol memang dibangun untuk memperlancar ekonomi, termasuk mobilitas kendaraan pengangkut besar. Kedua: jam jalan yang terbatas sama saja tambahan biaya, karena menyangkut jam lembur gudang, jadwal bongkar muat, jadwal produksi, dan lainnya.

Akan tetapi membiarkan truk berjalan lambat itu saya andaikan menghasilkan pemborosan yang lebih besar karena kemacetan. Ya BBM, ya oli, ya obat stres, ya perawatan kewarasan. Soal hitungan, serahkanlah ke ahlinya — asal bukan Jasa Marga dan kalangan industri.

Tak usah ditengok dari helikopter, cukup dari arah berlawanan proses perlambanan itu tampak. Jalur dari arah berlawanan yang lancar bisa tiba-tiba merambat, bahkan macet, karena ada truk pelan atau mogok.

Memang sih, selain truk penyebab lalu lintas pelan adalah volume pelintas dan… mobil nontruk yang berjalan santai di lajur kanan dan tengah sehingga menutupi arus di belakanganya.

Ukuran lambat di jalan tol itu sederhana. Kalau mobil Anda berada di lajur paling kanan dan lebih dari sekali disalip dari kiri, berarti Anda kurang cepat. Sengaja saya tak bicara angka kecepatan karena pasti menimbulkan debat. :D Pokoknya lajur kanan untuk mendahului, bukan didahului. :P

Anehnya, patroli jalan tol (tepatnya polisi yang diperbantukan ke Jasa Marga) jarang menertibkan mobil “kurang cepat” di lajur tengah dan kanan. Mereka, kalau mampu dan mau, lebih tertarik mengejar mobil yang terbang. Padahal terbang dan merambat itu sama-sama salah — oh ya, saya tak bicara risiko kecepatan di atas 100 km/jam yang diperbolehkan.

Sedangkan penertiban untuk mobil yang mencuri bahu jalan (lajur darurat), baik cepat atau melesat, saya amat sangat setuju. Begitu pula untuk mobil pemerkosa marka jalan. Harus ditindak. Menyalip dari kiri, itu juga salah — tetapi sering dilakukan atas nama keterpaksaan.

Dengan kekusutan dan ketidakjelasan seperti itulah, Badan Pengatur Jalan Tol akan menaikkan tarif. Aneh. Apalagi kalau alasannya hanya pada rumusan yang secara formal memang “benar”: jalan tol adalah jalan yang harus dilalui dengan membayar, tak ada urusannya dengan bebas hambatan. Tapi spirit pembuatan jalan tol, selain soal berbayar, adalah kelancaran. Begitu bukan, Tuan?

Semoga jawaban Tuan bukanlah, “Bukan!”


Rabu, 12 Agustus 2009

PAMAN TYO
http://blogombal.org/2009/08/12/biarkan-siput-merambat-di-jalan-tol/